Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2017

FAKTA-FAKTA Dibalik Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Bali Indonesia

Raja Salman dari Arab Saudi dijadwalkan melakukan kunjungan ke Jakarta dan Bali pada bulan depan. raja ketujuh dalam dinasti Alsaud itu akan berada di Indonesia selama 1-9 Maret mendatang.  Enam hari sebelum kepulangannya, rombongannya akan bersantai di Bali. Rombongan kerajaan itu akan membawa sebanyak 1.500 orang selama lawatannya. Termasuk diantaranya 10 orang menteri kabinet dan 25 orang pangeran.


Raja Salman dari Arab Saudi dijadwalkan melakukan kunjungan ke Jakarta dan Bali pada bulan depan. raja ketujuh dalam dinasti Alsaud itu akan berada di Indonesia selama 1-9 Maret mendatang.

Enam hari sebelum kepulangannya, rombongannya akan bersantai di Bali. Rombongan kerajaan itu akan membawa sebanyak 1.500 orang selama lawatannya. Termasuk diantaranya 10 orang menteri kabinet dan 25 orang pangeran.


Dampak Luar Biasa dari Liburan Raja Salman ke Bali

Agenda kunjungan Raja Salman ke Indonesia tak hanya untuk urusan kenegaraan. Sebab, raja berjuluk Penjaga Dua Kota Suci itu juga akan berlibur di Bali, yakni pada 4-9 Maret.

Kabar tentang liburan Raja Salman ke Bali membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya ikut senang. Menurutnya, liburan Raja Salman Arab Saudi ke Bali itu sangat bagus bagi pariwisata Indonesia.

Mantan Dirut Telkom itu mengatakan liburan Raja Salman di Bali semakin memperkuat citra pariwisata di Pulau Dewata ataupun Indonesia. “Raja Arab Saudi bisa menjadi endorser yang istimewa, seorang raja, pemimpin dan panutan negara, orang nomor satu yang semua perilakunya akan diikuti oleh rakyatnya,” ujar Arief, Jumat (24/2) seperti dikutip dari laman jawapos.com.

Karenanya, liburan Raja Salman di Bali pasti akan menjadi perhatian dunia, terutama negara-negara Arab. Apalagi Indonesia memang membidik negara-negara Arab sebagai pasar pariwisata.

“Sebagai tokoh dunia, kehadiran Raja Salman itu sudah pasti akan diliput oleh media internasional, termasuk media di Arab. Ini akan memiliki media value yang tinggi dengan indirect impact yang sangat besar bagi pariwisata Indonesia,” tuturnya.

Apalagi, kini Indonesia punya konsep wisata halal. Pasar terbesar wisata halal adalah Arab dan Timur Tengah.

Dalam setahun, kata Arief, jumlah outbound travellers dari Timur Tengah lebih dari 100 juta wisman. Karenanya liburan Raja Salman bersama rombongan yang mencapai 1.500 orang termasuk para pangeran Kerajaan Arab Saudi juga bisa menjadi ajang promoso bagi pariwisata Bali dan daerah lain.

“Mereka berpotensi untuk datang kembali ke Bali and Beyond. Destinasi wisata halal seperti Lombok, Aceh dan Sumbar bisa berpromosi di Bali,” tuturnya.

Lebih lanjut Arief memerinci, wisman asal Arab selama ini dikenal paling royal dalam membelanjakan uang saat berwisata. Mereka memang suka berbelanja dan menginap di hotel berbintang.

Dalam data Kemenpar, rata-rata setiap wisman asal Arab membelanjakan uangnya hingga USD 1.800. “Rata-rata dunia, UNWTO (Organisasi PBB untuk Dunia Pariwisata, red) itu hanya USD 1.200,” katanya.

Selain itu, wisman asal Arab Saudi juga dikenal punya periode tinggal (lenght of stay) saat berwisata paling lama. “Biasanya di musim haji, musim panas, mereka berlibur dengan keluarga berombongan besar seperti Raja Salman ini,” tuturnya.


Di Bali untuk Acara Private Keluarga

"Ke Bali perjalanan untuk keluarga, secara umum akan kami terima sebagai tamu negara. Tetapi ke sana (Bali) itu lebih ke private mereka, acara keluarga," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (22/2/2017).

Dia menuturkan selama berada di Indonesia, Raja Arab beserta rombongan akan mendapatkan pengamanan terbaik.

Mereka akan berada di Indonesia selama sembilan hari, mulai 1-9 Maret 2017. Sesuai jadwal, pada 1-4 Maret berada di Jakarta, kemudian 5-9 liburan di Bali.

Namun, Arief mengaku belum tahu daerah mana saja yang dikunjungi mereka selama berada di Bali. "Belum diinformasikan ke kami," ujar dia dilansir dari suara.com, Senin 27 Februari 2017.


Raja Salman dari Arab Saudi dijadwalkan melakukan kunjungan ke Jakarta dan Bali pada bulan depan. raja ketujuh dalam dinasti Alsaud itu akan berada di Indonesia selama 1-9 Maret mendatang.  Enam hari sebelum kepulangannya, rombongannya akan bersantai di Bali. Rombongan kerajaan itu akan membawa sebanyak 1.500 orang selama lawatannya. Termasuk diantaranya 10 orang menteri kabinet dan 25 orang pangeran.

Bawa Mercy Anti-Peluru Super

Alat transportasi yang disiapkan untuk Raja Salman selama di Indonesia sudah barang tentu kelas VVIP. Tidak tanggung-tanggung pemerintah Arab Saudi mendatangkan langsung dua unit Mercedes-Maybach S600 dengan kemampuan yang istimewa. Dua unit Mercedes ini pun sudah tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali sejak 18 Februari 2017.

Dikutip dari laman otomania.com, Senin 27 Februari 2017, Mercedes-Maybach memperkenalkan S600 versi guard pada Februari tahun lalu, dengan misi menjaga keselamatan penumpang VR10.

Mobil mewah ini mendapat perlindungan balistik dari Balistics Authority di ULM, Jerman. Artinya sedan mewah andalan petinggi negara ini tahan peluru kendali atau peluru jenis apapun.

S600 guard juga dibekali kaca anti peluru senjata serbu. Kaca dibuat dari bahan aramid dan komponen polyethylene dan dilapisi polycarbonate yang tahan lontaran serpihan dan peledak.

Mercedes merinci s600 guard tahan ledakan dari samping maupun kolong mobil. Rangka mobil dirancang khusus menghadapi ancaman dari segala sisi.

Sementara urusan mesin, S600 guard dibekali mesin V12-turbo dengan kapasitas 5.980 cc. Mesin ini mampu memuntahkan daya 530 tk dengan torsi puncak 830 Nm pada putaran 1.900 rpm.


Kunjungan Pertama Setelah 46 Tahun

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud akan berada di Indonesia selama sembilan hari, mulai tanggal 1 hingga 9 Maret 2017.

Ini adalah kunjungan kepala negara Arab paling bersejarah bagi Indonesia karena kunjungan sebelumnya oleh Raja Faizal terjadi 46 tahun silam.


Rombongan Diangkut Tujuh Unit Pesawat

Dalam kunjungannya ke Indonesia, Raja Salman Abdulaziz bakal membawa rombongan dengan jumlah yang tak main-main.

Sekitar 1.500 orang akan turut serta di kunjungan kali ini. Untuk mengangkut rombongan tersebut, tujuh unit pesawat pun sudah disiapkan.

Tujuh pesawat berkarakter wide body itu terdiri dari dua unit Boeing 777/2, 1 unit Boeing 747/1xp, 1 unit Boeing 7474/3, 1 unit Boeing 747/4, 1 unit Boeing 757 dan 1 unit pesawat Hercules.

Corporate Communication Departement Head Angkasa Pura I, Ida Bagus Ketut Juliadnyana mengungkapkan bandara di Indonesia siap melayani kedatangan Raja Salman beserta rombongan. (*)

Sabtu, 02 Januari 2016

Selama 2015, 21.179 Orang Tewas Akibat Perang di Suriah

SEKITAR 21.179 orang telah tewas di Suriah selama 2017.  Demikian laporan Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia seperti dilansir islammemo.cc seperti dikutip laman hizbut-tahrir.or.id, Sabtu 2 Januari 2017.
SEKITAR 21.179 orang telah tewas di Suriah selama 2017.  Demikian laporan Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia seperti dilansir islammemo.cc seperti dikutip laman hizbut-tahrir.or.id, Sabtu 2 Januari 2017.

Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan oleh jaringan yang mendokumentasikan para korban sejak awal tahun hingga pagi ini (28/12) bahwa “pasukan pemerintah menyebabkan kematian 15. 748 orang, di antaranya 3.704 orang bersenjata, 12.044 warga sipil, termasuk 2.592 anak-anak, dan 1.957 wanita, setidaknya 1.546 orang tewas akibat penyiksaan, termasuk tujuh anak dan empat perempuan,” menurut Aljazeera.

Menurut sumber yang sama, proporsi anak-anak dan perempuan dari total korban tewas di tangan rezim sebanyak 38% dari total korban sipil. Juga korban tewas sejak awal bulan Desember hingga hari ini jumlahnya sekitar 1.793, dan rata-rata sepuluh anak tewas setiap harinya.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa “pasukan Rusia telah membunuh 849 warga sipil, termasuk 199 anak-anak, dan 109 wanita.”

Laporan juga mencatat “132 warga sipil tewas, termasuk 32 anak-anak dan 12 perempuan, serta empat orang karena penyiksaan di tangan pasukan pemerintahan otonomi Kurdi.” Sedang laporan mendokumentasikan “tindakan kelompok militan yang membunuh 2.265 orang.”

Organisasi negara (ISIS) Suriah membunuh 2.098 orang pada tahun 2017, menurut jaringan Suriah melalui (situs jejaring sosial).

Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan bahwa korban tewas dari kelompok bersenjata “2.098 orang. Mereka tewas di tangan ISIS, termasuk 732 militan, dan 1.366 warga sipil, di antaranya 149 anak-anak dan 188 wanita, serta delapan orang tewas karena penyiksaan. Sementara Jabhah Al-Nusra telah menewaskan 167 orang, 78 militan oposisi dan 89 warga sipil, di antaranya 13 anak-anak dan 11 wanita, serta sembilan orang yang karena penyiksaan.

Dalam konteks yang sama, laporan mencatat bahwa “1.121 orang tewas oleh kelompok oposisi bersenjata, 49 militan dan 1.072 warga sipil, di antaranya 258 anak-anak dan 181 wanita, serta sembilan karena penyiksaan.”

Pasukan koalisi internasional untuk memerangi ISIS, juga berkontribusi dalam pembunuhan 277 warga sipil, termasuk 87 anak-anak dan 46 wanita.

Laporan itu juga berisi “dokumentasi tewasnya 787 orang, termasuk 168 militan dan 631 warga sipil, di antaranya 113 anak-anak dan 111 wanita, baik mereka tewas karena tenggelam di kapal imigrasi, atau dalam insiden pemboman, yang dalam hal ini jaringan tidak dapat mengkonfirmasi identitas pelakunya, atau di tangan kelompok bersenjata yang tidak diketahui, dan di antara mereka empat orang tewas akibat penyiksaan.”

Di sisi lain, jaringan mengatakan bahwwa “ada kesulitan yang dihadapi timnya dalam mendokumentasikan para korban dari kelompok-kelompok oposisi bersenjata, karena sejumlah besar di front tempur dan tidak dalam kota, sehingga tidak bisa mendapatkan rincian terkait nama, foto dan sebagainya.”

Dan kesulitan lain dalam mendokumentasikan adalah karena “kekuatan oposisi bersenjata terkadang dalam beberapa kasus menyembunyikannya, demi alasan keamanan, atau lainnya. Dengan demikian, apa yang dicatat jauh lebih kecil dari jumlah yang terjadi di lapangan.”

Menurut laporan Hak Asasi Manusia, pertempuran di Suriah telah menyisakan lebih dari 250 ribu orang tewas, sedangkan dokumentasi jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia dalam laporan tahunannya untuk mengingat awal peristiwa di Suriah, yaitu pertengahan Maret 2011, bahwa jumlah pengungsi Suriah di luar negeri lebih dari 5.835.000, dimana lebih dari 50% dari mereka adalah anak-anak, sementara perempuan 35% , dan 15% laki-laki.  []

Selasa, 29 September 2015

Ternyata Inilah Penyebab Tragedi Maut di Mina yang Menimpa Jemaah Haji Indonesia

MAKKAH - Hingga Senin (28/9) malam, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi sudah mengidentifikasi 41 jemaah calon haji Indonesia meninggal karena Tragedi Mina.   Tiga di antaranya berasal dari Kelompok Terbang (Kloter) 10 Embarkasi Hasanuddin (UPG), yang merupakan gabungan jemaah dari Sulawesi Barat yakni Majene, Polewali Mandar dan Mamasa.  Selama ini beredar informasi bahwa jalur 204 (tempat di mana terjadinya insiden maut saat hendak menuju jamarat), bukan jalur yang biasa digunakan jemaah Indonesia, adalah kabar yang benar. Namun mengapa masih banyak korban asal Indonesia?  Kepada salah satu media yang berbasis di Sulbar, Arajang seperti dikutip jpnn, Selasa (29/9/2017) Ketua Komisi IV DPRD Sulbar, Abd Rahim mengungkap alasan berjatuhannya korban dari Indonesia. Rahim sendiri merupakan anggota Kloter 10 UPG.   Dia menjelaskan, rombongannya seharusnya melalui jalur King Fahd, yang lazim digunakan jemaah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun dalam perjalanan, jalur tersebut sedang diblokade polisi Arab Saudi.  Setelah terjadi pemblokadean, jemaah kloter 10 UPG diarahkan ke jalur 204. Hal itulah yang membuat jemaah kloter 10 UPG berjubel dengan orang Afrika, Turki, Iran dan seterusnya di tempat terjadinya Tragedi Mina 2017.  "Terlepas dari takdir yang Allah, telah terjadi situasi seperti itu (perpindahan jalur)," kata Rahim via BlackBerry Messenger (BBM), Senin (28/9).  Rahim juga mengungkap, pernyataan Kepala Daker Makkah Arsyad Hidayat yang menyatakan jemaah calon haji Indonesia keluar jalur saat perjalanan menuju Jamarat (tempat pelontaran), tidak salah.   "Mungkin itu juga alasan Kepala Daker Makkah sehingga menyatakan bahwa jalur 204 menuju Jamarat (tempat pelontaran) itu bukan jalur yang biasa dilewati jemaah Indonesia. Tetapi Kepala Daker mungkin tidak tahu telah terjadi pemblokadean jalur King Fahd," pungkas Rahim. [*]
ilustrasi haji.  |  foto : net
MAKKAH - Hingga Senin (28/9) malam, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Arab Saudi sudah mengidentifikasi 41 jemaah calon haji Indonesia meninggal karena Tragedi Mina.

Tiga di antaranya berasal dari Kelompok Terbang (Kloter) 10 Embarkasi Hasanuddin (UPG), yang merupakan gabungan jemaah dari Sulawesi Barat yakni Majene, Polewali Mandar dan Mamasa.

Selama ini beredar informasi bahwa jalur 204 (tempat di mana terjadinya insiden maut saat hendak menuju jamarat), bukan jalur yang biasa digunakan jemaah Indonesia, adalah kabar yang benar. Namun mengapa masih banyak korban asal Indonesia?

Kepada salah satu media yang berbasis di Sulbar, Arajang seperti dikutip jpnn, Selasa (29/9/2017) Ketua Komisi IV DPRD Sulbar, Abd Rahim mengungkap alasan berjatuhannya korban dari Indonesia. Rahim sendiri merupakan anggota Kloter 10 UPG.

Dia menjelaskan, rombongannya seharusnya melalui jalur King Fahd, yang lazim digunakan jemaah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun dalam perjalanan, jalur tersebut sedang diblokade polisi Arab Saudi.

Setelah terjadi pemblokadean, jemaah kloter 10 UPG diarahkan ke jalur 204. Hal itulah yang membuat jemaah kloter 10 UPG berjubel dengan orang Afrika, Turki, Iran dan seterusnya di tempat terjadinya Tragedi Mina 2017.

"Terlepas dari takdir yang Allah, telah terjadi situasi seperti itu (perpindahan jalur)," kata Rahim via BlackBerry Messenger (BBM), Senin (28/9).

Rahim juga mengungkap, pernyataan Kepala Daker Makkah Arsyad Hidayat yang menyatakan jemaah calon haji Indonesia keluar jalur saat perjalanan menuju Jamarat (tempat pelontaran), tidak salah.

"Mungkin itu juga alasan Kepala Daker Makkah sehingga menyatakan bahwa jalur 204 menuju Jamarat (tempat pelontaran) itu bukan jalur yang biasa dilewati jemaah Indonesia. Tetapi Kepala Daker mungkin tidak tahu telah terjadi pemblokadean jalur King Fahd," pungkas Rahim. [*]

Kamis, 24 September 2015

[COVER STORY] Tragedi Kelabu di Mina, Kronologis, Korban Hingga Catatan Sejarah dari Tahun ke Tahun


Tepat pada perayaan Hari Raya Iduladha, kabar duka kembali datang dari Tanah Suci. Setelah musibah jatuhnya crane di Mekah, hari ini, ratusan jemaah meninggal dunia karena terinjak dan kurang oksigen di Mina.   Hingga pukul 23.51 WIB, tercatat sebanyak 719 jiwa meninggal dunia dan 850 luka-luka dalam peristiwa yang terjadi pukul 07.00 waktu setempat atau saat jemaah akan melakukan ibadah lempar jumrah.  Kejadian itu terjadi di antara tenda-tenda di kota yang terletak 5 kilometer dari Mekah.  Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengungkapkan kejadian tersebut berawal dari berhentinya sekelompok jamaah secara tiba-tiba.  "Kejadian terjadi di jalan menuju tempat lontar jumrah di antara tenda-tenda di Mina. Awal kejadian karena ada sekelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti, sehingga terjadi penumpukan dan desak-desakan," ungkap Arrmanatha melalui pesan singkat seperti dilansir Liputan6.com, Kamis (24/9/2017).  Sementara itu, jemaah yang berada di belakangnya, terus merangsak maju. Akibatnya, sebagian jemaah berjatuhan dan terinjak.   "Insiden terjadi pukul 11.00 WIB akibat saling dorong jemaah di area tenda Mina saat menuju ke lokasi jumrah aqobah," sebut Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Lalu Muhamad Iqbal.  Seperti dikutip dari The Guardian, insiden terjadi saat dua kelompok besar peziarah bertemu di persimpangan besar. Desakan dan saling dorong tak terelakkan.  Pemerintah Arab Saudi langsung bergerak cepat ke tempat insiden. Sebanyak 220 ambulans dan 4 ribu pekerja SAR dikerahkan ke tempat kejadian. Hal ini dilakukan demi memperlancar proses evakuasi.

Tepat pada perayaan Hari Raya Iduladha, kabar duka kembali datang dari Tanah Suci. Setelah musibah jatuhnya crane di Mekah, hari ini, ratusan jemaah meninggal dunia karena terinjak dan kurang oksigen di Mina.



Hingga pukul 23.51 WIB, tercatat sebanyak 719 jiwa meninggal dunia dan 850 luka-luka dalam peristiwa yang terjadi pukul 07.00 waktu setempat atau saat jemaah akan melakukan ibadah lempar jumrah.

Kejadian itu terjadi di antara tenda-tenda di kota yang terletak 5 kilometer dari Mekah.  Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengungkapkan kejadian tersebut berawal dari berhentinya sekelompok jamaah secara tiba-tiba.

"Kejadian terjadi di jalan menuju tempat lontar jumrah di antara tenda-tenda di Mina. Awal kejadian karena ada sekelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti, sehingga terjadi penumpukan dan desak-desakan," ungkap Arrmanatha melalui pesan singkat seperti dilansir Liputan6.com, Kamis (24/9/2017).

Sementara itu, jemaah yang berada di belakangnya, terus merangsak maju. Akibatnya, sebagian jemaah berjatuhan dan terinjak.

"Insiden terjadi pukul 11.00 WIB akibat saling dorong jemaah di area tenda Mina saat menuju ke lokasi jumrah aqobah," sebut Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Lalu Muhamad Iqbal.

Seperti dikutip dari The Guardian, insiden terjadi saat dua kelompok besar peziarah bertemu di persimpangan besar. Desakan dan saling dorong tak terelakkan.

Pemerintah Arab Saudi langsung bergerak cepat ke tempat insiden. Sebanyak 220 ambulans dan 4 ribu pekerja SAR dikerahkan ke tempat kejadian. Hal ini dilakukan demi memperlancar proses evakuasi.



Tepat pada perayaan Hari Raya Iduladha, kabar duka kembali datang dari Tanah Suci. Setelah musibah jatuhnya crane di Mekah, hari ini, ratusan jemaah meninggal dunia karena terinjak dan kurang oksigen di Mina.   Hingga pukul 23.51 WIB, tercatat sebanyak 719 jiwa meninggal dunia dan 850 luka-luka dalam peristiwa yang terjadi pukul 07.00 waktu setempat atau saat jemaah akan melakukan ibadah lempar jumrah.  Kejadian itu terjadi di antara tenda-tenda di kota yang terletak 5 kilometer dari Mekah.  Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengungkapkan kejadian tersebut berawal dari berhentinya sekelompok jamaah secara tiba-tiba.  "Kejadian terjadi di jalan menuju tempat lontar jumrah di antara tenda-tenda di Mina. Awal kejadian karena ada sekelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti, sehingga terjadi penumpukan dan desak-desakan," ungkap Arrmanatha melalui pesan singkat seperti dilansir Liputan6.com, Kamis (24/9/2017).  Sementara itu, jemaah yang berada di belakangnya, terus merangsak maju. Akibatnya, sebagian jemaah berjatuhan dan terinjak.   "Insiden terjadi pukul 11.00 WIB akibat saling dorong jemaah di area tenda Mina saat menuju ke lokasi jumrah aqobah," sebut Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Lalu Muhamad Iqbal.  Seperti dikutip dari The Guardian, insiden terjadi saat dua kelompok besar peziarah bertemu di persimpangan besar. Desakan dan saling dorong tak terelakkan.  Pemerintah Arab Saudi langsung bergerak cepat ke tempat insiden. Sebanyak 220 ambulans dan 4 ribu pekerja SAR dikerahkan ke tempat kejadian. Hal ini dilakukan demi memperlancar proses evakuasi.


WNI Jadi Korban

Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Mekah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arsyad Hidayat menyatakan korban musibah Mina dari jemaah haji Indonesia baru diketahui 1 orang. Petugas haji sedang mengidentifikasinya.

"Berdasarkan info tim di lapangan, ada 1 korban dari Indonesia, sedang diindentifikasi. Mudah-mudahan dalam waktu dekat akan disampaikan identitasnya," ucap Arsyad saat konferensi pers dengan Media Center Haji di Mekah, Arab Saudi, Kamis (24/9/2017).

Arsyad menambahkan, petugas haji juga sudah diterjunkan ke lokasi kejadian. "Berusaha menguasai medan lokasi agar tidak muncul korban lebih banyak lagi," imbuh Arsyad.

Selain itu, menurut dia, petugas haji juga dikirim ke rumah sakit di Mina. "Banyak korban di sana," tukas Arsyad.

Untuk mengetahui kabar mengenai kondisi jemaah haji Indonesia di Mekah, PPHI Daker Mekah membuka hotmail: +966 054 360 3154.

Tim KJRI Jeddah segera bergerak ke tempat kejadian untuk memastikan WNI lain yang jadi korban atau tidak.

"Tim KJRI Jeddah sudah menuju ke lokasi, untuk mencari informasi dan koordinasi dengan otoritas setempat menegai adanya korban WNI atau tidak," sebut Arrmanatha Nasir.
Tepat pada perayaan Hari Raya Iduladha, kabar duka kembali datang dari Tanah Suci. Setelah musibah jatuhnya crane di Mekah, hari ini, ratusan jemaah meninggal dunia karena terinjak dan kurang oksigen di Mina.   Hingga pukul 23.51 WIB, tercatat sebanyak 719 jiwa meninggal dunia dan 850 luka-luka dalam peristiwa yang terjadi pukul 07.00 waktu setempat atau saat jemaah akan melakukan ibadah lempar jumrah.  Kejadian itu terjadi di antara tenda-tenda di kota yang terletak 5 kilometer dari Mekah.  Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengungkapkan kejadian tersebut berawal dari berhentinya sekelompok jamaah secara tiba-tiba.  "Kejadian terjadi di jalan menuju tempat lontar jumrah di antara tenda-tenda di Mina. Awal kejadian karena ada sekelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti, sehingga terjadi penumpukan dan desak-desakan," ungkap Arrmanatha melalui pesan singkat seperti dilansir Liputan6.com, Kamis (24/9/2017).  Sementara itu, jemaah yang berada di belakangnya, terus merangsak maju. Akibatnya, sebagian jemaah berjatuhan dan terinjak.   "Insiden terjadi pukul 11.00 WIB akibat saling dorong jemaah di area tenda Mina saat menuju ke lokasi jumrah aqobah," sebut Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Lalu Muhamad Iqbal.  Seperti dikutip dari The Guardian, insiden terjadi saat dua kelompok besar peziarah bertemu di persimpangan besar. Desakan dan saling dorong tak terelakkan.  Pemerintah Arab Saudi langsung bergerak cepat ke tempat insiden. Sebanyak 220 ambulans dan 4 ribu pekerja SAR dikerahkan ke tempat kejadian. Hal ini dilakukan demi memperlancar proses evakuasi.


Bukan Jalur WNI

Arsyad Hidayat menambahkan kemungkinan jemaah Indonesia yang menjadi korban hanya sedikit. Sebab, lokasi musibah bukan jalur yang biasa dilewati jemaah haji asal Indonesia.

Menurut dia, peristiwa itu terjadi di Jalan Arab 204 yang bukan merupakan jalur WNI melempar jumrah. "Jalan Arab 204 bukan merupakan jalur yang biasa ditempuh khususnya jemaah haji," ujar dia.

Ini diperkuat dengan info yang diterima oleh PPIH. "Info yang kami terima sampai saat ini jumlah korban meninggal 220 meninggal (terus bertambah), luka-luka 450 dan itu kebanyakan dari jemaah dari negara-negara Arab dan Afrika," ujar Arsyad.

Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Saleh Partaonan Daulay menduga musibah Mina terpicu oleh penumpukan jamaah yang akan melakukan pelontaran jumrah Aqobah pada pagi hari. Jamaah menghindari cuaca panas pada siang dan sore hari.

"Pada waktu wukuf kemarin cuaca sangat panas, di atas 50-55 derajat celcius. Tentu cuaca ekstream itu dihindari, banyak jemaah yang berusaha melontar jumroh pada pagi hari," kata Saleh yang tengah menunaikan ibadah haji, ketika dihubungi, Kamis (24/9/2017).

Karena banyak yang memilih pagi hari itu, kata dia, jemaah haji berdesak-desakan untuk segera melakukan pelontaran jumrah Aqabah. "Ini mungkin yang mengakibatkan para jamaah panik dan saling dorong," ujar Saleh.

Menurut dia, musibah Mina ini bukan karena kelebihan kapasitas jumlah jemaah haji secara keseluruhan. Tahun lalu jumlah jamaah yang menunaikan ibadah haji sama dengan tahun ini.

Bahkan, kata dia, empat tahun lalu jumlah jamaah lebih besar dengan kuota penuh setiap negara. Namun musibah Mina seperti ini tidak terjadi.

"Sekarang setiap negara kan kuotanya dikurangi 20 persen. Secara logis, ini bukan over capacity. Ada faktor lain yang masih kita gali informasinya," kata Saleh.
Tepat pada perayaan Hari Raya Iduladha, kabar duka kembali datang dari Tanah Suci. Setelah musibah jatuhnya crane di Mekah, hari ini, ratusan jemaah meninggal dunia karena terinjak dan kurang oksigen di Mina.   Hingga pukul 23.51 WIB, tercatat sebanyak 719 jiwa meninggal dunia dan 850 luka-luka dalam peristiwa yang terjadi pukul 07.00 waktu setempat atau saat jemaah akan melakukan ibadah lempar jumrah.  Kejadian itu terjadi di antara tenda-tenda di kota yang terletak 5 kilometer dari Mekah.  Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengungkapkan kejadian tersebut berawal dari berhentinya sekelompok jamaah secara tiba-tiba.  "Kejadian terjadi di jalan menuju tempat lontar jumrah di antara tenda-tenda di Mina. Awal kejadian karena ada sekelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti, sehingga terjadi penumpukan dan desak-desakan," ungkap Arrmanatha melalui pesan singkat seperti dilansir Liputan6.com, Kamis (24/9/2017).  Sementara itu, jemaah yang berada di belakangnya, terus merangsak maju. Akibatnya, sebagian jemaah berjatuhan dan terinjak.   "Insiden terjadi pukul 11.00 WIB akibat saling dorong jemaah di area tenda Mina saat menuju ke lokasi jumrah aqobah," sebut Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Lalu Muhamad Iqbal.  Seperti dikutip dari The Guardian, insiden terjadi saat dua kelompok besar peziarah bertemu di persimpangan besar. Desakan dan saling dorong tak terelakkan.  Pemerintah Arab Saudi langsung bergerak cepat ke tempat insiden. Sebanyak 220 ambulans dan 4 ribu pekerja SAR dikerahkan ke tempat kejadian. Hal ini dilakukan demi memperlancar proses evakuasi.

Korban WNI Bertambah Lagi

Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia (BHI) Kemlu, Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan perkembangan terkait musibah di Mina, Arab Saudi. Dia menyebut korban meninggal dunia asal Indonesia bertambah 2 hingga menjadi 3 orang.

Keterangan mengenai bertambahnya korban didapat dari Wakil Duta Besar Indonesia di Arab Saudi, Sunarko. Saat itu Sunarko tengah berada di rumah sakit tempat para korban tragedi Mina dirawat.

"Pak Sunarko sedang di Rumah Sakit Pemerintah Arab Saudi, Al-Jisr, di Mina. Baru dapat info ada 1 lagi WNI (menjadi) korban. Namun masih verifikasi," ucap Iqbal dilansir Liputan6.com di Jakarta, Kamis (24/9/2017).

Berikut 3 WNI yang wafat berdasarkan informasi dari Wakil Dubes RI di Arab Saudi, Sunarko, hingga Kamis 24 September 2017 pukul 16.00 waktu Arab Saudi atau pukul 20.00 WIB:

1. Hamid Atuwi (laki laki) asal Surabaya
2. Saiyah (perempuan) asal Batam
3. Jemaah laki-laki yang belum diketahui namanya karena tidak ada gelang identitas di tangan, namun diketahui berasal dari Probolinggo. Data korban tersebut sedang dicek lebih lanjut di data haji.

Sementara 1 korban dalam kondisi serius dan saat ini dirawat di RS An-Nur, Mekkah.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menyatakan, dari informasi yang diterimanya hingga saat ini tercatat 2 WNI yang menjadi korban dalam musibah di Mina, Mekah.

"Jadi yang sudah kami terima ada WNI yang menjadi korban yakni atas nama Bapak Hamid Atwitarji dan Ibu Syaisiyah Syahril Abdul Gafar, tapi itu terus kami konfirmasi," beber Menlu Retno Marsudi yang mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK di New York, Amerika Serikat, Kamis 24 September 2017, seperti dikutip dari Antaranews.com.

Retno menambahkan, mengenai dua nama WNI tersebut adalah berdasarkan info yang diterimanya dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang diketahui dari gelang tangan korban.

Musibah yang terjadi di Mina, Arab Saudi, Kamis 24 September 2017, menjadi yang terparah kedua dalam kurun waktu seperempat abad sejak 1990. Tercatat ada 717 jemaah haji yang dinyatakan meninggal dunia, sementara 800 lainnya luka-luka hingga pukul 20.11 WIB atau pukul 16.11 waktu Arab Saudi.

Korban jiwa dimungkinkan terus bertambah. Belum ada jumlah pasti. Lokasi musibah terletak sekitar 5 kilometer di luar Kota Mekah, di mana 160.000 tenda didirikan untuk menampung jutaan jemaah yang akan melakukan ritual lempar jumrah.
Tepat pada perayaan Hari Raya Iduladha, kabar duka kembali datang dari Tanah Suci. Setelah musibah jatuhnya crane di Mekah, hari ini, ratusan jemaah meninggal dunia karena terinjak dan kurang oksigen di Mina.   Hingga pukul 23.51 WIB, tercatat sebanyak 719 jiwa meninggal dunia dan 850 luka-luka dalam peristiwa yang terjadi pukul 07.00 waktu setempat atau saat jemaah akan melakukan ibadah lempar jumrah.  Kejadian itu terjadi di antara tenda-tenda di kota yang terletak 5 kilometer dari Mekah.  Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengungkapkan kejadian tersebut berawal dari berhentinya sekelompok jamaah secara tiba-tiba.  "Kejadian terjadi di jalan menuju tempat lontar jumrah di antara tenda-tenda di Mina. Awal kejadian karena ada sekelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti, sehingga terjadi penumpukan dan desak-desakan," ungkap Arrmanatha melalui pesan singkat seperti dilansir Liputan6.com, Kamis (24/9/2017).  Sementara itu, jemaah yang berada di belakangnya, terus merangsak maju. Akibatnya, sebagian jemaah berjatuhan dan terinjak.   "Insiden terjadi pukul 11.00 WIB akibat saling dorong jemaah di area tenda Mina saat menuju ke lokasi jumrah aqobah," sebut Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Lalu Muhamad Iqbal.  Seperti dikutip dari The Guardian, insiden terjadi saat dua kelompok besar peziarah bertemu di persimpangan besar. Desakan dan saling dorong tak terelakkan.  Pemerintah Arab Saudi langsung bergerak cepat ke tempat insiden. Sebanyak 220 ambulans dan 4 ribu pekerja SAR dikerahkan ke tempat kejadian. Hal ini dilakukan demi memperlancar proses evakuasi.

'Tragedi Mina' Sepanjang 1990-2017

Setiap tahun, jutaan muslim berkumpul di Tanah Suci, Mekah dan Madinah, untuk melaksanakan rukun Islam kelima. Manfaat ibadah haji selain mendekatkan diri pada Sang Pencipta dan membersihkan jiwa, juga untuk menjalin persatuan ukhuwah Islamiyah.

Namun, dalam pelaksanaannya, sejumlah musibah terjadi pada musim haji. Seperti pada hari ini, Kamis (24/9/2017), akibat berdesak-desakan saat ritual lempar jumrah, setidaknya 700 jemaah meninggal dunia di Mina, sementara ratusan lainnya luka-luka.

Berikut 7 musibah yang pernah terjadi dalam pelaksanaan ibadah haji di Mina, sebuah kota yang terletak 5 km dari Mekah:

23 September 2017

Sekitar pukul 07.00 waktu Mina atau pukul 11.00, musibah terjadi akibat saling dorong jemaah di area tenda Mina, menuju ke lokasi jumrah aqobah.

Setidaknya 453 jemaah haji meninggal dunia, lebih dari 700 orang lainnya mengalami luka-luka. Setidaknya 1 jemaah haji Indonesia masuk dalam daftar korban.

Video yang beredar dari lokasi kejadian menggambarkan situasi pasca-musibah. Korban terlihat bergeletakan, sementara paramedis berusaha keras membantu mereka yang terluka.

"Korban luka dikirimkan ke 4 rumah sakit di Mina. Beberapa di antaranya juga diterbangkan menggunakan helikopter ke Mekah," demikian dikutip dari Al Arabiya.

12 Januari 2006

Setidaknya 345 jemaah haji meninggal dunia akibat berdesak-desakan saat melaksanakan ritual lempar jumrah di Mina pada 12 Januari 2006.

Insiden bermula saat koper-koper dari sebuah bus jatuh sehingga jemaah di sekitarnya terhambat dan mengakibatkan mereka terinjak-injak. Diperkirakan sekitar dua juta jemaah haji sedang melakukan lempar jumrah pada saat kejadian tersebut terjadi.

Saksi mata, Abdullah Pulig, seorang petugas kebersihan asal India menceritakan apa yang ia saksikan pada hari nahas itu.

"Saya melihat orang berjalan, tiba-tiba terdengar teriakan, seruan, dan tangisan. Saya melihat sekeliling, orang-orang saling bertumpuk. Lalu, korban tak bernyawa ditarik dari keramaian," kata dia seperti dikutip dari BBC.

1 Februari 2004

Sekitar 244 jemaah haji meninggal dunia, sementara 244 lainnya luka-luka dalam sebuah insiden di al-Jamarat, Mina pada 1 Februari 2004.

Insiden terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat. "Kondisi berdesak-desakan yang ekstrem terjadi sekitar 27 menit sebelum aparat berhasil mengendalikan situasi," demikian menurut Kementerian Kesehatan Arab Saudi.

5 Maret 2001

Sebanyak 35 jemaah, 23 perempuan dan 23 pria, meninggal dunia akibat bersesakan di Jamarat pada 5 Maret 2001.

"Situasi sungguh ramai, orang-orang berdesakan dan saling dorong," kata saksi mata, seorang jemaah haji asal Turki seperti dikutip dari situs Independent.co.uk.

"Saya yakin, ada sesuatu yang terjadi saat melihat ambulans, namun saya tahu berapa orang yang meninggal dunia." katanya.

9 April 1998

Insiden berdesakan dekat Jamarat menewaskan 119 jemaah haji pada 9 April 1998.

Seperti dikutip dari BBC, insiden terjadi saat jemaah menempuh jalan yang menanjak saat melaksanakan ritual lempar jumrah.

Sejumlah korban meninggal akibat terjatuh, lainnya kehilangan nyawa akibat terinjak-injak.

15 April 1997

Setidaknya 343 calon haji meninggal dunia akibat kebakaran di perkampungan tenda di Mina pada 15 April 1997. Lebih dari 1.500 orang cedera.

"Hasil penyelidikan mengindikasikan bahwa kebakaran terjadi akibat kecelakaan," kata Dubes Saudi Arabia di Inggris, Ghazi Algosaibi seperti dikabarkan CNN. "Kita menghadapi sebuah tragedi kemanusiaan yang tak memiliki implikasi politik apapun.," katanya.

ksi mata mengatakan, kebakaran dipicu tabung gas yang meledak. Api kemudian menjalar 70 ribu tenda.

Udara di Mina pekat dengan asap. Sementara benda-benda gosong bertebaran, dari bus hingga botol air mineral yang meleleh.

23 Mei 1994

Sebanyak 270 jemaah haji, kebanyakan dari Indonesia, meninggal dunia di al-Jamarat saat melakukan ritual lempar jumrah.

2 Juli 1990

Pada 2 Juli 1990, sekitar 1.426 jemaah dilaporkan meninggal dunia akibat berdesak-desakan dan saling injak di terowongan Haratul Lisan, Mina.

Seperti diberitakan Antara, dari seluruh "syuhada haji" yang meninggal dunia, 631 di antaranya berasal dari Indonesia.

Momen menyedihkan itu diduga kuat terjadi karena jemaah, baik yang akan pergi melempar jumrah maupun yang pulang, berebutan dari dua arah untuk memasuki satu-satunya terowongan yang menghubungkan tempat jumrah dan Haratul Lisan. Dalam kondisi minim oksigen dan panik, mereka saling injak.

Kondisi seperti itu tak tertahankan bagi para jemaah. Terutama mereka yang lanjut usia dengan kondisi fisik yang lemah terpapar terik matahari.

Seorang saksi mengatakan, laju manusia di dalam terowongan tiba-tiba terhenti. Sementara, dari luar, para jemaah mendesak masuk. Mereka ingin segera mendinginkan tubuh dari teriknya panas yang mencapai 44 derajat Celsius.

Akibatnya, terowongan yang dirancang bisa menampung 1.000 orang, dijejali 5.000 jemaah.

"Dengan oksigen yang berkurang, banyak orang tak sadarkan diri, sebagian meninggal dunia. Mereka yang ada di dalam terowongan berdesakan, bahkan ada yang terinjak-injak," kata seorang saksi mata seperti dimuat New York Times, 3 Juli 1990. (*)

Sumber : Liputan6.com